Membangun Kesadaran Tentang Hubungan Berkekerasan di Kelas #5 @akberpekanbaru

Di penghujung tahun 2013, Akademi Berbagi Pekanbaru mengadakan 2x kelas di bulan Desember ini. Setelah kelas keempat yang sukses diadakan pada tanggal 14 Desember 2013 lalu, hari ini (22 Desember 2013) yang juga bertepatan dengan Hari Ibu, Akber Pekanbaru mengadakan kelas kelima. Tema yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu tentang kekerasan domestik. Domestic Violence Awareness.

Guru di kelas kelima ini bernama Indah Damayanti, seorang psikolog yang sehari-hari bekerja di salah satu rumah sakit swasta besar di Pekanbaru. Beliau adalah lulusan S1 Psikologi Universitas Padjajaran dan Magister Psikologi konsentrasi Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Indonesia. Dalam profesi sehari-harinya, beliau cukup sering menangani berbagai kasus kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga. Di kelas kelima tadi, beliau berbagi ilmunya kepada lebih dari 35 orang peserta kelas Akber Pekanbaru yang hadir di Ruang Bedah Buku, Pustaka Wilayah Soeman HS, Pekanbaru.

Indah DamayantiKekerasan Domestik (Domestic Violence), mungkin masih ada yang merasa asing dengan istilah ini? Well, dalam bahasa sederhananya, kekerasan domestik adalah kekerasan yang terjadi dalam hubungan interpersonal yang dekat. Misalnya kekerasan dalam hubungan rumah tangga (atau biasa kita kenal dengan istilah KDRT), kekerasan dalam hubungan pernikahan siri/nikah di bawah tangan, dan juga kekerasan dalam hubungan pacaran (KDP).

Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terjadi antara suami dan istri, tetapi juga bisa terjadi pada anak, saudara kandung, dan bahkan pembantu rumah tangga. Untuk kekerasan jenis ini, korban dilindungi secara hukum oleh negara yang tercatat dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Sedangkan untuk dua jenis kekerasan lainnya, yaitu kekerasan dalam hubungan pernikahan siri/nikah di bawah tangan dan kekerasan dalam hubungan pacaran, tidak dilindungi oleh UU PKDRT.

Bentuk kekerasan ini beraneka ragam. Ada kekerasan fisik, yaitu kekerasan yang menimbulkan rasa sakit secara fisik (memukul, menampar, dsb). Selain itu ada pula kekerasan psikis yaitu kekerasan yang menimbulkan rasa takut, hilangnya rasa percaya diri (contoh : menghina, mencaci, mengancam, dsb). Berbeda halnya dengan kekerasan fisik yang dampaknya bisa dibuktikan, kekerasan psikis ini dampaknya tidak dapat dilihat secara kasat mata. Then, selain kedua kekerasan tsb ada pula kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi.

Semua bentuk kekerasan itu dapat memunculkan dampak negatif pada diri korban. Dampak bisa dilihat secara fisik yaitu bekas luka, cacat tubuh, bahkan kematian. Perasaan bingung, sedih, merasa tidak berdaya, tidak percaya diri, sulit tidur, hingga kejiwaan berat, adalah bentuk lain dari dampak negatif pada korban kekerasan. Pelaku kekerasan yang memiliki coping strategy yang buruk cenderung akan memunculkan emosi negatif. Hal ini tentunya bisa berdampak buruk pula bagi anak (jika kekerasan terjadi dalam hubungan rumah tangga). Sehingga walaupun si anak tidak mengalami kekerasan secara langsung, dampak yang muncul pada diri anak akan sama besarnya dengan apa yang dirasakan oleh orang tua yang menjadi korban kekerasan tersebut.

DSC03448Penting bagi kita untuk dapat mengenali ciri-ciri pasangan yang berpotensi akan melakukan kekerasan, agar kelak kita terhindar dari hubungan yang penuh dengan tindakan kekerasan. Pada prinsipnya, kekerasan tersebut merupakan siklus yang berulang. Dimulai dari fase bulan madu/fase tenang > adanya ketegangan > terjadi kekerasan > permohonan maaf > kembali ke fase tenang. Begitu seterusnya. Pelaku kekerasan itu sendiri, ada yang bersifat temporary (emosi naik-turun, akan bersikap kasar jika berada di bawah tekanan) ada pula yang permanent. Untuk pelaku kekerasan yang bersifat temporary, kemungkinan untuk mengubah pola perilakunya menjadi lebih baik lagi sangatlah besar. Beda halnya dengan pelaku kekerasan yang bersifat permanent, yang membutuhkan terapi khusus dalam menanganinya. Tapi poin penting yang harus dipahami, semua itu butuh KEMAUAN dari diri sang pelaku untuk MAU ‘mengobati’ dirinya agar tidak lagi melakukan kekerasan, khususnya pada orang-orang terdekat mereka.

Nah trus, gimana dengan si korban kekerasan? Gimana caranya untuk keluar dari hubungan berkekerasan tsb? Well, sesungguhnya keluar dari hubungan berkekerasan tidaklah mudah. Banyak kasus yang terjadi, seseorang yang walaupun sering mendapat perlakuan kasar dari pasangannya tetap bertahan di hubungan itu. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini terjadi. Tapi satu hal yang pasti, alangkah lebih baiknya jika kita bisa mengenali tanda-tanda kekerasan yang dilakukan oleh pasangan kita sejak dini, mengenali karakter pasangan kita (dari karakteristik keluarganya, dari caranya mengekspresikan emosi, dsb), dan juga untuk lebih peduli pada diri kita sendiri. Jangan pernah merasa sendiri, selalu yakin bahwa bukan diri kita yang salah, dan jangan malu untuk bercerita pada orang yang kita percaya. 🙂

***

Notes:
Materi Kelas “Domestic Violence Awareness” –> Coming Soon
Profil Guru Kelas “Domestic Violence Awareness” –> Klik
Rangkuman Kelas Live Tweet “Domestic Violence Awareness” –> Klik

Advertisements

2 thoughts on “Membangun Kesadaran Tentang Hubungan Berkekerasan di Kelas #5 @akberpekanbaru

  1. Pingback: Kelas Kelima Akademi Berbagi Pekanbaru : Domestic Violence Awareness | My Life, My Story

  2. Pingback: Wanita dan Domestic Violence | Akademi Berbagi Pekanbaru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s