Dokumentasi Tradisi, Bayu Winata #PKU14 [end]

Culture photography adalah bagian dari travel photography yang menekankan budaya dari masyarakat adat yang hidup dalam suatu daerah. Biasanya yang diangkat adalah festival maupun kehidupan keseharian dari masyarakat adat itu sendiri. Don Hasman, seorang etnographer Indonesia – sebutan untuk fotografer yang fokus pada dokumentasi budaya, membagi tiga siklus hidup manusia agar foto travel yang berhubungan dengan budaya menjadi lengkap. Tiga siklus ini adalah kelahiran, pernikahan, dan kematian manusia. Jika ketiga hal ini bisa kita rekam dalam masyarakat adat, maka dapat dikatakan foto kita akan lengkap.

2 Dalam hal meliput suatu budaya secara mendalam, khususnya di daerah pedalaman, sangat jarang orang yang melakukannya kecuali jika ia memiliki tugas khusus. Kebanyakan Etnografer pada akhirnya menjadi peneliti atau budayawan. Di Indonesia sendiri, profesi fotografer sering dijadikan second jobs. Dengan semakin ketatnya industry percetakan, harga kertas yang mahal mengakibatkan perusahaan memerlukan fotografer yang sekaligus bisa menulis untuk menekan biaya. Bahkan, seiring perkembangan zaman, fotografer dituntut tidak hanya bisa memotret, tetapi juga harus bisa menulis, video shooting, hingga editing. Kombinasi dari berbagai keahlian tersebut akan menjadi nilai tambah bagi seorang fotografer.

Ada beberapa tips dalam memotret masyarakat adat ini, diantaranya :

  1. Riset, dan riset. Sebisa mungkin lakukan riset mengenai masyarakat adat yang ingin kita datangi. Apakah daerah yang kita datangi adalah daerah konflik atau bukan, bagaimana menuju kesana, menginap dimana, bagaimana dengan listrik apakah 24 jam atau memakai genset, tidur dimana, dll.
  2. Persiapkan perlengkapan yang ada, seperti jenis lensa, lensa sudut lebar atau lensa panjang, flash, dan juga charger.
  3. Sosialisasilah kepada masyarakat yang ada, akan lebih mudah bagi kita untuk masuk kedalam masyarakat adat yang ada dengan bersosialisasi terlebih dahulu. Dengan bersosialisasi kita akan mendapatkan info-info menarik selain data riset kita.
  4. Bangunlah pagi hari, bagi masyarakat adat pagi adalah awal dari kegiatan. Jika kita bangun pagi, maka kita akan dapat mengabadikan berbagai macam kegiatan mereka. Jangan sampai kehilangan moment penting hanya karena terlambat bangun.

3Bang Bayu juga tak lupa memberikan contoh dokumentasi budaya yang pernah dilakukannya. Seperti ritual pemindahan peti mati (Meliao Tando) di Tana Toraja – Sulawesi Selatan. Upacara Pernikahan (Gawai Gedang) Suku Talang Mamak di Riau, Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi – Riau, Perayaan Waisak di Candi Borobudur – Jawa Tengah, dan Ritual Sedekah Laut (Sigofi Ngolo) di Teluk Jailolo – Maluku Utara. Akberian pun serasa dibawa keliling Indonesia dengan cerita kebudayaan yang disampaikan. Indonesia memang luar biasa!

Nah, yang perlu diingat adalah biasakan meminta izin. Suatu budaya tentu tidak terlepas dari yang namanya masyarakat setempat. Mereka tak jarang jadi objek foto. Jangan sampai kita lupa ‘memanusiakan’ orang yang dijadikan objek. Walau terlihat sepele, meminta izin itu sangat diperlukan. Dalam pendokumentasian yang memerlukan waktu lebih lama, kita bahkan perlu lebih mendekatkan diri ke masyarakat dengan bersosialisasi, memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan tujuan kita datang ke daerah tersebut.

Ketika ada suatu event kebudayaan, jadwal kegiatan perhari tidak selalu di expose, sehingga para pendatang, khususnya fotografer harus giat mencari info agar tidak kehilangan moment. Jika masyarakat tidak terlalu mengetahui detail waktunya, disarankan bertanya kepada pemuka masyarakat.

Tulisan yang menarik akan menjadi nilai tambah dari foto yang telah diambil. Terlebih bagi yang berminat mengirimkannya ke majalah travel. Tiap orang mengalami hal yang berbeda saat mengambil foto, hal itu bisa dijadikan lead atau pembuka tulisan. Contohnya “panas terik membangunkan saya,…..” menjelaskan pengalaman dengan detail. Hal ini juga menjadi daya tarik bagi pembaca untuk melanjutkan hingga akhir tulisan.

 Tips memasukkan karya foto dan tulisan ke majalah :

  • Ambilah foto EDFAT. Foto yang memperlihatkan secara keseluruhan, detail, foto dari berbagai sudut pengambilan gambar, dan momen.
  • Tulis deskripsi secara mendetail
  • Tambahkan info penting terkait budaya yang diabadikan, misalnya kebiasaan masyarakat setempat, hal yang tidak boleh dilakukan, dan lain-lain.
  • Kuasai teknik menulis yang baik agar tulisan kita berkualitas. Editor lebih suka tulisan yang tidak perlu banyak diedit. Tulisan yang pernah dimuat bisa dijadikan referensi atau sarana pembelajaran.
  • Cari alamat email dari perusahaan majalah yang dituju. Bisa dari redaksi dalam majalah atau website resmi. Setelah itu, kirimkan beberapa foto yang paling menarik beserta tulisan. Jika diterima, pihak majalah akan menghubungi dengan meminta foto resolusi tinggi.

Itu dia sekilas tentang kelas ke-14 Akber Pekanbaru. Yuk praktekin ilmunya akberians. Selamat nulis dan jeprat-jepret. Kalo bukan kita yang memperkenalkan budaya Indonesia, siapa lagi??

Penulis : Meity Intan Suryadi –> @meityintan
Pemateri : Bayu Winata @bayuwinata
Materi : Silahkan Download Klik Disini

Notes:
Kelas ini unik, karena kelas outdoor yang mesti pakai genset, sound portable dan screen projector juga. Tapi karena semua adalah niat kita untuk mewujudkan kelas berbagi, tidak ada yang tidak mungkin. Semua Pinjaman itu berjalan dengan begitu saja, Yuk Gabung kami di Relawan AkberPekanbaru dengan kisah-kisahnya.

5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s